Cerita di Balik Gaun Pengantin Samara Weaving di Ready or Not
Samara Weaving dalam film Ready or Not. Instagram/@samweaving
Gaun pengantin yang dipakai Samara Weaving dalam film Ready or Not bukan sebatas gaun, gaun itu ialah senjata pembunuh
Sebagai seorang pengantin perempuan yang diteror oleh mertuanya yang baru di film horor-thriller Ready or Not, aktris Samara Weaving mengenakan satu kostum, yakni gaun pengantin Victoria yang bermanfaat sebagai masterclass dalam desain kostum dan kisah yang berlapis.
Gaun pengantin yang dipakai Samara Weaving bukan sebatas gaun, gaun itu ialah senjata pembunuh, perlengkapan P3K, pad pendaratan, perangkat pelacak, dan beban yang mengerikan untuk pahlawan film ketika ia berjuang untuk bertahan di malam pernikahannya.
Gaun tersebut mempunyai lengkungan dan perubahan penuh. Saya samakan gaun tersebut dengan tank top Bruce Willis di 'Die Hard,' kata perancang kostum Avery Plewes seperti dikutip dari laman Variety.
Samara Weaving membintangi karakter Grace, seorang gadis ruang belajar menengah menikah dengan dinasti yang kekaisarannya dirangsang dengan permainan papan kebaruan dan tumbuh menjadi kepemilikan kesebelasan pro-olahraga.
Ternyata seluruh keberuntungan tersebut berharga mahal, dalam format ritual di mana masing-masing anggota family baru mesti ikut serta. Ini omong kosong yang dapat mengakibatkan kematian, laksana yang dipelajari oleh Weaving dengan buruk. Aktris ini dikejar mansion Gotik, dan terbebani oleh gaunnya.
"Ini sebetulnya bukan gaun, busana itu diciptakan dalam 5 bagian. Saya menciptakan semuanya secara terpisah sehingga semua direktur dapat mendapat sebanyak barangkali dan berlipat ganda mungkin. Ini kemeja renda, korset, selempang, lapisan, dan overskirt, "kata Plewes.
Sash kain di unsur pinggangnya, dipakai untuk mencekik di antara predatornya. Lengan renda membungkus luka daging yang tidak menyenangkan. Lapisan demi lapisan rok tulle diciptakan mengembang dan enteng sehingga Weaving dapat berlari melewati lorong-lorong rahasia dan kebun berbahaya. Pada satu titik, rok dramatisnya mematahkan kejatuhannya dari jendela lantai tiga.
“Saya paling neurotik mengenai hal itu. Saya mempunyai diagram alur dan spreadsheet. Saya pergi baris demi baris atas hal-hal yang terjadi pada Samara dan merekayasa balik teknik membuat gaun yang bakal memotret seluruh hal ini dengan estetis dan sarat pertimbangan. Hal-hal laksana renda tersebut benar-benar disengaja. Para sutradara menyenangi renda secara khusus, sebab renda benar-benar mengaksentuasi darah dan tekstur pada kamera, ” kata Plewes.
Avery Plewes menambahkan pemakaian bahan lace laksana yang dipakai Grace Kelly dan Kate Middleton sebagai tanda pada orang biasa yang menikah dengan bangsawan. Di mula film, Samara Weaving mengubah sepatu satinnya dengan sepatu kuning Converse, guna memberi sinyal kedudukan ekonominya dan menolong membuat aktris tersebut terlihat dalam tidak sedikit adegan malam hari. Pembuat sepatu sudah menghentikan warna kuning pada ketika syuting, sampai-sampai tim Plewes mesti melukis tangan sepatu itu.
Ada 24 gaun pengantin yang diciptakan, 17 di antaranya dikenakan oleh Weaving dan lima oleh pemeran pengganti. “Kami syuting sekitar 26 hari. Ketika kita mengenakan pakaian yang sama guna jumlah masa-masa itu, saya merasa laksana dua menjadi satu,” kata Plewes. Lebih dari manfaatnya, sang sutradara menuliskan bahwa gaun tersebut membuat pengakuan yang lebih banyak tentang perempuan dan peran mereka dalam institusi pernikahan.
“Gaun tersebut benar-benar mewakili patriarki, dan [dalam urusan ini] pengungkapannya. Dia benar-benar feminis. Saya melulu pernah mendesain hal-hal dengan wanita kuat atau petunjuk mengherankan yang diidentifikasi. Saya menandatangani naskah ini segera sesudah saya membacanya, sebab saya paling mencintainya,” ujar Plewes.
Co-sutradara film Matt Bettinelli-Olpin menggarisbawahi titik plot urgen Grace yang tumbuh dalam film. “Mari anda beri Grace pada urusan yang tidak benar-benar dia inginkan. Dia hendak menjadi unsur dari family ini, sebab dia mengharapkan keluarga. Tapi ide-ide berikut yang agak memaksanya sampai-sampai dia menunjukkannya sekitar film," katanya. “Kami tidak pernah hendak jatuh ke dalam versi eksploitatif itu, kami masih menginginkannya bahwa ia memang keren, ia mempunyai gaun ini, ia membuatnya mengerjakan apa yang ia butuhkan guna dilakukan. Dia menggunakannya guna keuntungannya. "




Tidak ada komentar:
Posting Komentar