Lansia di Sulteng Tahan Lapar Pakai Ikat Pinggang

Kencangkan ikat pinggang. Idiom itu digunakan untuk berhemat. Menekan pengeluaran supaya cukup guna memenuhi keperluan hidup.
Tapi, istilah tersebut benar-benar dilaksanakan oleh sepasang suami istri lansia di Desa Poni-poniki, Kecamatan Motui, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Istilah itu dilaksanakan bukan dalam artian penghematan. Tapi sebab menahan lapar sebab tak terdapat makanan yang dapat dikonsumsi. Inilah cerita prihatin pasangan Tahir dan Nauru.
" Tetangga tak masing-masing hari bawa makanan. Suami pun tidak masing-masing hari bisa uang," kata Nuru.
Sehari-hari, Tahir bekerja sebagai pemanjat kelapa dengan upah sistem untuk hasil. Setiap kelapa yang sukses dia dapat, bakal dikupas dan dijemur guna dijadikan kopra.
Tapi, sejak tubuhnya bongkok, dia mustahil lagi memanjat tidak sedikit pohon kelapa.
Tahir dan Nuru hidup dalam kemiskinan. Pasangan ini melulu hidup berdua dan tak mempunyai keluarga.
" Tahir sekarang melulu bertugas mengambil kelapa agar dapat duit untuk melakukan pembelian makanan mereka berdua. Kalau terpaksa, kadang masih panjat juga," kata Lislani, tetangga pasangan itu.
Kasmin, tetangga yang lain, menyinggung pasangan ini bermukim di gubuk yang dibangkitkan warga. Rumah itu terletak di dalam lorong yang tak begitu jauh dari jalan raya.
Gubuk tersebut tercipta dari kayu beratap rumbia. Terkadang, Nuru dan Tahir mengandalkan sambungan listrik dari tetangga, tetapi kadang melulu menggunakan penerangan lampu minyak.
" Kalau lihat langsung rumahnya, serupa kandang. Kasihan sebenarnya, kami pun sudah berjuang bantu-bantu," ujar Kasmin.
Tetangga lainnya, Asman, mengatakan, pasangan ini tak mendapat pertolongan untuk penduduk miskin.
" Bantuan warga kurang mampu sepertinya tak pernah mereka terima. Sebab, identitas mereka kata sejumlah pihak tak jelas," kata Asman.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar