3,8 Miliar Orang Miskin Semakin Miskin pada 2018

Jurang pemisah antara Si Kaya dan Si Miskin semakin melebar. Tak melulu miliarder yang terus bertambah, orang miskin pun semakin miskin saat perekonomian dunia berkembang.
Rabu 23 Januari 2019, urusan ini diungkapkan oleh lembaga amal, Oxfam International.
Lembaga ini menilai iklim ekonomi menghasilkan deviden yang luar biasa untuk miliarder. Tercatat, harta miliarder naik 12 persen pada 2018. Sebaliknya, harta orang kurang mampu turun 11 persen.
Oxfam mencatat, masing-masing harinya di semua dunia, kekayaan miliarder meningkat US$2,5 miliar (Rp35,46 miliar) per hari. Setiap dua hari, seorang orang lompat ruang belajar menjadi miliarder.
Vice President for Policy and Advocacy di Oxfam America, Paul O’Brien, menuliskan temuan ini mengindikasikan pendekatan ekonomi baru, dibutuhkan untuk menolong mendistribusikan kekayaan.
Kalangan konservatif optimistis penurunan pajak untuk orang kaya, dapat memacu perkembangan dan pada kesudahannya akan menyerahkan lebih tidak sedikit pekerjaan dan upah yang lebih tinggi untuk pekerja berpenghasilan rendah dan menengah. Namun, kepandaian ini malah menekan perkembangan ekonomi kalangan menengah ke bawah.
“ Yang kami minta ialah kepemimpinan dan kepandaian yang memperlambat kesenjangan,” kata dia.
O’Brien mengatakan mendongkrak pajak untuk orang dan perusahaan terkaya di dunia, akan menolong untuk mendanai program-program pengentasan kemiskinan.
Oxfam mencatat, eskalasi pajak orang kaya sebesar 0,5 persen, akan dapat digunakan sebagai ongkos pendidikan 262 juta anak-anak putus sekolah dan perawatan kesehatan untuk 3,3 juta orang.
O’Brien pun memperkenalkan ekonomi manusia. Ekonomi insan ini bertolak belakang dengan ekonomi pertumbuhan. Ekonomi manusia malah menitikberatkan untuk pemberdayaan manusia.
Ekonomi insan akan menyerahkan perawatan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan gender untuk orang-orang di semua dunia.
" Semua data mengindikasikan bahwa mendidik anak-anak ialah cara terbaik untuk membina ekonomi yang sehat dan membuat kekayaan bareng yang sejati. Kita butuh memasukkan anak-anak ke sekolah yang berkualitas, dan menyingkirkan hambatan hukum dan kebiasaan ini supaya perempuan diperlakukan tidak adil di lokasi kerja,” kata dia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar