Gejala Efek Pseudobulbar dalam Tawa-Pedih Joker
Pantaipoker dominoqq -Film Joker teranyar (2019) bakal menggamit perhatian anda dari karakter Joker yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix. Karakter Joker sekitar ini melekat sebagai sebagai figur jahat yang berlawanan dengan superhero Batman.
Dalam kemasan film Joker buatan terbaru ini, karakter Joker menampakkan pertumbuhan sebagai orang baik menjadi perangai jahat. Dalam suatu wawancara teranyar dengan majalah Italia Il Vernerdi, Joaquin Phoenix mengungkapkan proses pembuatan karakter yang dijalani secara khusus. Seperti dikutip dari Indiewire.com, Joaquin menyusun karakter dan tawa khas sebagai Joker dengan mempelajari korban pengidap Pathological Laughter and Crying (PLC).
Disebutkan bahwa Joaquin menyaksikan sejumlah video yang mengindikasikan para penderita PLC sebab gangguan emosi yang tak terkontrol. Penyakit yang mereka derita ditunjukkan oleh perilaku tawa dan menangis tanpa sebab, yang didapatkan oleh rangsangan yang berbeda-beda.
Arina Bingelien, dkk. dalam tulisan berjudul “Pathological Laughing and Crying Post-stroke: Liaison Psychiatrist Beware”, menguraikan bahwa PLC ialah kondisi klinis yang mengakibatkan penderitanya merasakan bermacam gangguan neurologis. PLC pun diperlihatkan dari situasi tawa atau tangisan yang terjadi secara tiba-tiba dan tak terkendali.
Disebut pula dengan pseudobulbar affect (PBA), “ketidaksadaran emosional”, atau “ketidakseimbangan emosional”, PLC ditandai dengan fenomena perilaku tertawa, menangis, atau dua-duanya dalam waktu nyaris bersamaan, tanpa diprovokasi suasana hati. Sebaliknya, Arina menjelaskan, tawa atau tangisan tersebut muncul sebab ada gangguan sistem saraf.
Hingga sekarang belum diketahui pasti hal penyebab PLC. Namun gangguan PLC atau efek pseudobulbar seringkali muncul dirasakan oleh orang-orang yang merasakan cedera atau situasi neurologis tertentu pada otak. Beberapa di antaranya merupakan karena riwayat stroke, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), multiple sclerosis, dan cedera otak. Di samping itu, penyakit tertentu laksana Alzheimer dan Parkinson diketahui pun mendorong penderitanya mengalami fenomena efek pseudobulbar.
Pathological Laughter and Crying atau efek Pseudobulbar tidak melulu terlihat sekedar perilaku tertawa. Pengidap gangguan ini dapat juga bisa tertawa dan menangis tiba-tiba, tanpa sebab, dan pada masa-masa yang tidak seharusnya.
Hal tersebut muncul diakibatkan gangguan pada benak yang menciptakan respons pengidapnya terhadap sesuatu bakal berlebihan atau bahkan tak tepat sama sekali.
Dalam film Joker teranyar itu, kekhasan karakter Joker Joaquin Phoenix akan paling mengusik perhatian penonton. Di sejumlah film mula-mula yang memperlihatkan sosok Joker dengan pemeran berbeda, penampilan figur ini lazimnya berkesan powerful oleh gaya tawa dengan nada tinggi melengking, tawa berderai, disertai lekukan bibir yang melebar ke samping. Setidaknya karakter Joker yang melegenda tampil dalam serial TV Batman (1960), film Batman (1989), Batman: The Dark Knight (2008), dan Suicide Squad (2016).
Kali ini, permainan akting Joaquin Phoenix menjadi unik dengan kombinasi evolusi mimik, laksana senyum, melotot pun memicingkan mata, sampai tawa yang “pedih”. Dari prosesnya menelaah peran Joker, Joaquin Phoenix mencoba menciptakan kita penasaran dan hanyut dalam pergulatan emosi Joker di film ini. -Pantaipoker dominoqq



Tidak ada komentar:
Posting Komentar