PANTAIPOKER | Bandar Ceme | Agen Bandar Ceme | Bandar Capsa | Ceme Keliling | Poker Online

WWW.POKERPANTAI.ORG WWW.POKERPANTAI.INFO

Pantaipoker
Berita Terkini Indonesia oleh Situs Poker Online Terbaik Se-Indonesia.

Kamis, 29 Agustus 2019

Sujud Syukur Polisi Satgas Karhutla Sambut Turunnya Hujan

Sujud Syukur Polisi Satgas Karhutla Sambut Turunnya Hujan

Sujud Syukur Polisi Satgas Karhutla Sambut Turunnya Hujan




Kebakaran melanda area hutan dan lahan di beberapa Sumatera Selatan. Sejumlah instansi tergolong dinas pemadam kebakaran, polisi dan TNI menyusun Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) guna memadamkan sebanyak titik api.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Selatan, Ansori, mencatat sampai Senin, 26 Agustus 2019 luasan lokasi kebakaran sudah menjangkau 1.822 hektare. Kebanyakan masuk dalam distrik Kabupaten Musi Banysian dan Kabupaten Ogan Ilir.

Selama 8 hari semenjak kebakaran terjadi kesatu kali, Satgas Karhutla berusaha memadamkan api di Musi Banyuasin. Ribuan liter air telah disiramkan tetapi tak juga sukses sepenuhnya memadamkan api.

Upaya pemadaman api juga dilaksanakan oleh penduduk Sumatera Selatan. Mereka pun menggelar Sholat Istisqo pada Selasa, 27 Agustus 2019 pagi di sebanyak wilayah guna memohon diturunkannya hujan.

Hujan juga turun ketika tim Satgas berupaya keras memadamkan api di senja hari. Seketika, sejumlah polisi melangsungkan sujud syukur menyambut turunnya hujan.

Tak lupa, mereka menengadahkan tangan mengucap doa untuk Allah SWT. Mereka merasa paling terbantu dengan turunnya hujan.

Jokowi menakut-nakuti akan menanggalkan Kapolda dan Pangdam yang tak dapat mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dia tak hendak peristiwa karhutla 2015 terulang kembali.

" Aturan main anda masih masih sama, saya ingatkan untuk Pangdam, Danrem, Kapolda, Kapolres, aturan yang saya ucapkan 2015 masih berlaku (copot jabatan andai tak dapat atasi karhutla)," kata Jokowi, dilansir dari Liputan6.com, Selasa 6 Agustus 2019.

Presiden mempunyai nama lengkap Joko Widodo ini menyatakan telah menelepon Panglima TNI dan Kapolri tentang kebakaran hutan dan lahan. Dia menyinggung, kebakaran hutan dan lahan pada 2015 telah menyebabkan kerugian sampai Rp221 triliun.

Dibandingkan 2015, kebakaran hutan tahun ini menurun 81 persen. Tetapi, dibanding 2018, tahun ini merasakan kenaikan. " Harusnya ini tiap tahun turun, menghilangkan total," kata dia.

Jokowi meminta pemerintah wilayah berkomunikasi dengan Kapolda dan Pangdam guna menangani kebakaran hutan serta pencegahannya.

" Api sekecil apa juga segera padamkan. Kerugian gede sekali bila kita hitung. Jangan hingga ada yang namanya kedudukan siaga darurat, tidak boleh sampai," ucap dia.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia 99 persen diakibatkan oleh ulah manusia. Kebakaran dampak alam melulu terjadi 1 persen.

Beberapa pemicu kebakaran dampak ulah insan diantaranya buang putung cerutu atau menghanguskan sampah, disengaja karena hendak membuka lahan, dan disengaja sebab dibayar.

" Alasannya ialah dampak kurangnya lapangan kerja," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, dalam penjelasan resminya, Selasa, 5 Maret 2019.

Doni mengasumsikan masalah utama terjadinya pembakaran hutan terletak pada hal ekonomi masyarakat. Solusi untuk menanggulangi persoalan ini ialah meningkatkan komoditas ekonomi rakyat laksana kopi dan lada.

Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, eksklusif di Riau, sejumlah tiga stasiun pemantau cuaca disiapkan guna mendeteksi cuaca dan titik panas.

Meski begitu, kata Dwikorita, alat kepunyaan BMKG masih mempunyai kelemahan. " Baru bisa mendeteksi zona lebih dari 500 meter persegi," ujar dia.

Deputi dari Badan Restorasi Gambut (BRG) Haris Gunawan menambahkan gambut di Riau tidak dapat diceraikan dalam kehidupan masyarakat. Bekerjasama dengan BPPT, lembaganya mengembangkan inovasi pengawasan gambut secara realtime dengan memakai Android.

" Lahan gambut di Riau, dalam suasana merah. Sehingga saya dan anda butuh meningkatkan kesiapsiagaan. Perlu adanya air guna menyeimbangkan ekosistem, restorasi gambut, pelibatan masyarakat, dan peringatan dini terhadap kebakaran lahan gambut. Harus jelas kepemilikan lahan untuk mempermudah pemadaman, dan sejahterahkan rakyat," kata Haris.

Selain berkata mengenai kebakaran hutan, Doni pun menyebut situasi penanggulangan bencana di Tanah Air. Dia menyinggung pentingnya menguatkan penanggulangan bencana.

Doni menyatakan kerugian ekonomi Indonesia dampak bencana alam menjangkau Rp221 triliun pada 2015. Sementara itu, korban bencana sekitar 18 tahun terakhir menjangkau 1.220.701 orang.

Seiring bertambahnya cuaca kering di sejumlah daerah langganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), empat provinsi memutuskan status siaga-darurat. Keempat provinsi tersebut terletak di Sumatera dan Kalimantan.

Sumatera Selatan diketahui telah memutuskan status siaga semenjak 1 Februari 2018 sampai 30 Oktober 2018, Riau memutuskan status semenjak 19 Februari 2018 sampai 31 Mei 2018, Kalimantan Barat semenjak 1 Januari 2018 sampai 31 Desember 2018, dan Kalimantan Tengah memutuskan status semenjak 20 Februari 2018 sampai 21 Mei 2018.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menuliskan penetapan kedudukan siaga-darurat Karhutla menurut bertambahnya jumlah titik panas.

" Dengan pemberlakuan siaga terpaksa maka ada fasilitas akses dalam penanganan Karhutla, baik pengerahan personil, komando, logistik, perkiraan dan sokongan dari pemerintah pusat," kata Sutopo, Rabu, 21 Februari 2018.

Sutopo menuliskan daerah-daerah yang berada di dekat garis khatulistiwa ketika ini menginjak musim kemarau periode kesatu. Adapun kemarau periode kedua dilangsungkan pada Juni sampai September.

" Karhutla lazimnya meningkat pada periode kedua musim kemarau ini," ujar dia.

Berdasarkan pemantauan SNPP pada catalog modis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada Rabu pagi ini pukul 07.23 WIB, ada 90 titik panas di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar