PANTAIPOKER | Bandar Ceme | Agen Bandar Ceme | Bandar Capsa | Ceme Keliling | Poker Online

WWW.POKERPANTAI.ORG WWW.POKERPANTAI.INFO

Pantaipoker
Berita Terkini Indonesia oleh Situs Poker Online Terbaik Se-Indonesia.

Minggu, 22 September 2019

Putri Pengayuh Becak Raih Doktor di ITS dengan IPK 4

Putri Pengayuh Becak Raih Doktor di ITS dengan IPK 4

Putri Pengayuh Becak Raih Doktor di ITS dengan IPK 4




Salah satu mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses beroleh gelar doktor. Tapi yang membuat kami takjub luar biasa, sementara memahami latar belakang ekonomi si mahasisiwi itu sangat sederhana.

Ya, dia adalah Lailatul Qomariyah. Mahasiswi Departemen Teknik Kimia ini sukses capai mimpinya bersama mencukupi cost pendidikannya sendiri.

Selama merintis pendidikan, mahasiswi 27 th. ini terhitung giat mengimbuhkan les pribadi terhadap siswa SMP dan SMA di lebih kurang kampusnya.

Berbekal permintaan untuk merubah nasib keluarganya, anak sulung pasangan Saningrat yang bekerja sebagai pengayuh becak dan Rusmiati sebagai buruh tani, sukses mencukupi cost pendidikannya sendiri bersama mengajar matematika, fisika, kimia, bhs inggris dan lain-lain.

Perempuan asal Pamekasan, Madura ini memulai pendidikannya di ITS melalui beasiswa Bidikmisi jalur prestasi. Lalu ia mengambil alih beasiswa program percepatan untuk lulusan sarjana yang mencukupi kualifikasi menjadi seorang Doktor sepanjang 4 tahun, yakni Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).

Kegigihan Laila didorong oleh sebuah kutipan Alquran. " Dalam Alquran disebutkan bahwa Allah tidak bakal merubah nasib suatu kaum tanpa usaha berasal dari kaum tersebut," kata Laila dikutip berasal dari laman its.ac.id, Sabtu 14 September 2019.

Akhirnya, ia sukses capai IPK 4.0 dalam program doktoral. Selepas diwisuda 15 September, mahasiswa kelahiran 16 Agustus 1992 ini ingin terus mengabdi di kampusnya.

" Aku udah mendapatkan kecocokan di ITS, menjadi biarpun banyak tawaran berasal dari luar, saya senantiasa ingin melanjutkan pengabdian saya di universitas perjuangan ini," tuturnya.

Namanya Maria Clara Yubilea Sidharta. Usianya baru 19 tahun, namun udah membuat banyak orang bangga.

Gadis remaja ini dinobatkan sebagai lulusan termuda Universitas Negeri Yogyakarta. Belum cukup sampai di situ, Lala, nama panggilannya, terhitung capai predikat Cum Laude bersama Indeks Prestasi Akademik 3,76 dalam wisuda periode Agustus lalu.

Sepintas, Lala tidak jauh beda bersama anak seusianya secara fisik. Tetapi, Lala adalah anak pribadi sebab divonis dokter sebagai anak berkebutuhan tertentu dan punyai tantangan berupa kesusahan berkomunikasi.

Meski berkebutuhan khusus, Lala ternyata anak genius. Setelah merintis tes IQ, tingkat kecerdasan Lala sangat tinggi capai 145.

Berkat semangat orangtuanya, Rahardjo Sidharta dan Patricia Lestari Taslim, Lala terus mengukir prestasi. Sang ibu senantiasa mengedepankan sehingga Lala tidak beranggap vonis sebagai anak berkebutuhan tertentu sebagai musibah namun anugerah atau 'gifted'.

" Mama sering bilang, vonis (sebagai gifted) dan Tes IQ itulah awal musibah. Tapi ternyata berasal dari penemuan dan bimbingan mama, musibah itu punyai banyak potensi. Potensi yang Puji Tuhan dapat Lala maksimalkan," ujar Lala, dikuti berasal dari uny.ac.id

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, Lala sempat dikenal sebagai pembuat kasus sebab sukar diatur oleh guru. Kondisi itu membuat Lala perlu lebih dari satu kali ubah sekolah. Bahkan sementara duduk dibangku SD, Lala perlu ubah sebanyak lima kali.

Sang ibu, Patricia, mengaku mulanya tidak memahami anaknya tergolong berkebutuhan khusus. Dia hanya memahami Lala dicap sebagai pembuat masalah.

" Yang saya tahu, Lala itu trouble maker. Saya memaksakan dia perlu sekolah umum dan sekolah negeri. Namanya terhitung ibu, saya jujur saja sementara itu otoriter ingin anak saya sekolah. Apalagi saya mantan guru, dan suami saya berprofesi sebagai dosen," kata Patricia.

Patricia baru tersadar kala Lala mogok sekolah jelang Ujian Nasional. Saat itu, Lala tidak senang sekolah sebab mulai tidak nyaman.

Setelah dipaksa, Lala selanjutnya senang mengikuti Ujian Nasional. Tetapi, tanpa persiapan apapun Lala justru lulus bersama nilai sangat memuaskan.

" Saat itulah saya mulai memahami, bahwa kami perlu ekstra tenaga mendampingi sebab keperluan dia berbeda," ucap Patricia.

Patricia lalu mengonsultasikan kondisi Lala ke dokter. Dia terhitung menguji tingkat kecerdasan Lala melalui tes IQ.

Pada 2013, Lala pertama kali merintis tes kecerdasan bersama hasil memuaskan yakni IQ 131. Hasil tersebut senantiasa naik di tes seterusnya sampai terhadap 2017 lalu, Lala dinyatakan punyai IQ 145.

Sejak divonis sebagai anak berkebutuhan khusus, Lala dan orangtuanya mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan bersama proses homeschooling. Dalam belajar, Lala senantiasa dibimbing Patricia.

Meski homeschooling, proses itu tidak membuat Lala menjadi anak tidak cukup pergaulan. Lala punyai banyak rekan sebab terlibat dalam sejumlah kegiatan.

Beberapa di antaranya, Lala bergabung bersama Komunitas Sesama Homeschoolers, terhitung ikut komunitas menari maupun musik. Dia pun sering menghabiskan sementara bersama teman-temannya di Sanggar Kegiatan Belajar dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

Tak butuh sementara lama bagi Lala untuk lulus SMP dan SMA. Pada 2013, Lala menuntaskan ujian Kejar Paket B (setara SMP), dan terhadap 2015 lulus Kejar Paket C bersama nilai yang bagus.

Tak hanya itu, Lala terhitung menguasai Bahasa Inggris, Perancis dan Jepang secara otodidak. Dia studi bhs berasal dari percakapan sehari-hari dan berselancar di internet.

Lepas ujian Kejar Paket C, Lala berharap kepada orangtua sehingga dapat kuliah. Dia ingin kembali berkumpul bersama teman-temannya yang normal.

" Kami kemudian berpikir, tersedia baiknya sesungguhnya dia kuliah. Saran berasal dari hasil tes IQ, mengambil alih jurusan bahasa. Akhirnya diambillah bhs yang belum ia kuasai, yakni Pendidikan Bahasa Jerman," kata Patricia.

Kampus UNY dipilih sebagai area kuliah Lala sebab menerapkan proses inklusif. Lala pun dapat berkembang menjadi mahasiswi berprestasi.

Tidak jarang Lala menjadi rebutan teman-temannya kala tersedia tugas kelompok. Mereka ingin studi bersama Lala.

" Jadi lingkungan di UNY inklusif. Ada dua alasan sebenarnya. Pertama sebab Lala tetap imut, anak umur 15 tahun, dan kedua sebab Lala cepat belajarnya. Setahun studi Jerman, dia udah fasih," kata Patricia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar