Klaim Bahasa Inggris Berasal dari China

Kelompok ilmuwan asal China mengklaim bahwa kebiasaan dan bahasa di Barat, tergolong Bahasa Inggris, berasal dari negara mereka.
Penemuan kontroversial tersebut mereka ungkapkan saat mengekor KTT Pendidikan Internasional Masa Depan China yang diselenggarakan untuk kesatu kalinya di Beijing pada bulan lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Asosiasi Riset Peradaban Dunia yang didirikan oleh sekelompok cendekiawan China mempresentasikan riset mereka guna kesatu kalinya.
Setelah mengerjakan presentasi, seorang wartawan bertanya mengenai klaim mereka. Sekretaris Jenderal Asosiasi Zhai Guiyun menyatakan bahwa bahasa Inggris berasal dari Bahasa Mandarin.
Meski terkadang mempunyai pengucapan atau makna yang berbeda, Guiyun tetap yakin dengan menyerahkan bukti berupa kesamaan sejumlah kata di kedua bahasa tersebut.
Misalnya, kata yellow berasal dari kata yelou dalam bahasa Mandarin. Kemudian terdapat kata shop yang sama dengan shangpu. Kata heart yang memiliki makna yang sama dengan kata hexin dalam bahasa Mandarin.
Guiyun mengakui bahwa persamaan pengucapan atau makna itu dapat saja sebab kebetulan. Namun bila tersebut kebetulan, mengapa tidak sedikit sekali misal kata-kata Bahasa Mandarin yang diserap ke dalam Bahasa Inggris.
" Meski Bahasa Inggris barangkali tidak terdengar laksana sebuah logat Bahasa Mandarin, tapi tidak sedikit bunyi logat Bahasa Mandarin yang diterima ke dalam bahasa tersebut ketika ini, tak terkecuali ke dalam Bahasa Jepang dan Korea," katanya.
Dia bahkan menyinggung bahwa Bahasa Mandarin ialah sumber dari seluruh bahasa di Barat yang ketika ini dipakai. Bahasa Perancis, Rusia, Jerman, dan lain-lain semuanya diturunkan dari Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris.
Guiyun dan rekan-rekannya mengklaim bahwa temuan mereka didasarkan pada riset selama sejumlah dekade.
Penelitian mereka memutuskan bahwa orang-orang yang kesatu kali berkata Bahasa Inggris bermukim di Lembah Sungai Indus.
Saat itu wilayah Lembah Sungai Indus diperintah oleh Kaisar Kuning (Yellow) dari China.
Orang-orang ini lantas bermigrasi ke Barat dan hidup sebagai orang barbar primitif.
Setelah berabad-abad, orang-orang barbar primitif ini mengerjakan kontak lagi dengan bangsa China yang membawa mereka terbit dari masa kegelapan yang panjang.
Guiyun menuliskan bahwa sebelum abad ke-15 dan ke-16, bangsa Eropa tidak mempunyai sejarah. Mereka melulu punya mitos dan legenda belaka.
Lebih jauh lagi, Guiyun mengklaim bahwa kemajuan kuno Yunani, Mesir, dan Romawi, semuanya dibuat-buat guna menutupi masa kemudian yang memalukan ini.
Dia bahkan menuliskan bahwa Konfusius ialah pelindung suci dari apa yang dinamakan Reinassance. Yaitu gerakan pembaharuan yang dikenal sebagai masa pencerahan.
Tujuan dari Reinassance ialah mereformasi ajaran-ajaran masyarakat laksana sastra, filsafat, seni, musik, politik, ilmu pengetahuan, dan agama.
Meski tersiar tidak masuk akal, Guiyun menambahkan China ialah sumber dari semua kebiasaan Barat.
Dia mengklaim bahwa ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan filsafat Eropa abad ke-18 dan 19 semuanya dicopet dari China.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar