Kisah Pilu Keluarga Miskin dan Jasad Bayi Tertahan di Peti Mati

Pilu hati netizen saat membaca empiris sedih Unit Khas Van Jenazah yang diberikan di Facebook ketika mendapat tugas mengurus jenazah bayi berusia satu hari.
Siapa yang takkan kecil hati mendengar ceritanya. Jenazah bayi tanpa nama tersebut sudah tiga hari sedang di dalam peti mati. Bukan keluarga enggan mengurus pemakamannya.
Bayi malang tersebut tak dapat langsung dikebumikan sebab keluarganya tidak punya uang guna mengeluarkannya dari lokasi tinggal sakit.
Yang mengenaskan lagi, sang ibu yang baru melahirkannya tidak dapat menyaksikan bayinya tersebut karena dia sendiri masih koma.
Bayi malang tersebut mengalami kejang-kejang sesaat sebelum kematiannya. Tidak terbayangkan bagaimana perasaan ibunya andai tahu anak kesatunya tersebut meninggal dunia.
Berdasarkan keterangan dari salah satu relawan Unit Khas Van Jenazah (UKVJ) mempunyai nama En Yus, dia mendapat permintaan guna mengurus jenazah bayi yang meninggal sesudah lahir.
Informasi mula menuliskan bahwa family dan kakek-nenek dari bayi tersebut telah kehabisan uang guna membayar ongkos pemakaman cucu kesatu mereka.
Setelah mendapat informasi tersebut, UKVJ langsung bergerak dengan mengirim sembilan relawan untuk menolong kakek-nenek bayi malang itu.
Mereka mengarah ke ke Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah di Klang, Selangor, Malaysia untuk memungut jenazah bayi tersebut untuk dimakamkan secara layak.
Ketika jenazah bayi tersebut tiba di kantor UKVJ bareng kakek-neneknya, 7 orang dari unit bilal langsung mengerjakan tugas memandikan dan mengafaninya.
Dari percakapan dengan sang nenek, jenazah bayi tersebut sudah terdapat di dalam peti mati sekitar tiga hari di lokasi tinggal sakit. Padahal, dia dan suaminya sudah berjuang untuk meminjam uang untuk sanak saudara dan tetangga. Namun sampai tiga hari usaha mereka tidak menemukan hasil.
Mereka hanya dapat mengumpulkan duit 200 ringgit atau sekira Rp679 ribu yang tidak mungkin lumayan untuk menerbitkan jenazah dari RS.
Padahal, ongkos total pengurusan jenazah di RS, dari memandikan sampai menguburkan, sebesar 500 ringgit atau sekira Rp1,6 juta.
Tidak dapat membayangkan alangkah sedihnya kakek-neneknya yang tidak dapat mengurus jenazah cucu mereka karena gagal menemukan uang.
Sambil menangis, sang nenek menyatakan sudah menghubungi adik dan kakaknya. Namun saudara-saudaranya tak mau menolong meminjamkan uang guna mengurus cucunya.
Setelah mendengar keluhannya, relawan UKVJ mengupayakan untuk mendinginkan sang nenek. Mereka memberi tahu bahwa ongkos pemulangan dan pengurusan jenazah cucunya tersebut ditanggung sepenuhnya oleh UKVJ.
Dengan terus berlinang air mata, suami istri tersebut tak henti-hentinya menyampaikan terima kasih untuk relawan UKVJ.
Mereka patut berduka dengan kematian bayi malang tersebut. Karena dia ialah cucu kesatu mereka.
Berdasarkan keterangan dari sang nenek, anak perempuannya yang berisi bayi tersebut sudah 3 kali merasakan kejang-kejang. Saat tersebut usia kandungannya telah hampir lumayan bulan guna bersalin.
Ketika merasakan kejang-kejang guna kedua kalinya, dia membawa anak perempuannya tersebut ke RS. Dia khawatir andai terjadi hal-hal buruk pada anak perempuannya dan bayi yang terdapat di dalam kandungannya.
Saat menantikan bayi tersebut lahir, anak perempuannya pulang kejang kejang. Padahal anak perempuannya sudah menerbitkan tanda-tanda bakal melahirkan.
Namun sayang, ketika telah lahir, bayinya ternyata telah meninggal dunia. Ibarat jatuh tertimpa tangga, anak perempuannya koma.
Sementara dia tidak dapat mengeluarkan jenazah cucunya yang telah dimasukkan peti mati sekitar tiga hari karena tak punya uang.
Sebelum kesebelasan UKVJ meninggalkan makam bayi tersebut, neneknya sempat memberi nama untuknya. Neneknya memberinya nama Nurjannah cocok dengan nama di antara kamar perawatan di UKVJ.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar