Mendaftar Sejak Kelas 3 SD, Remaja Pamekasan Kini Berangkat Haji

Wajah Mohammad Al Jufri Ahyi Singgit, 17 tahun, tampak bertolak belakang di antara semua jemaah haji beda di kloter SUB 11. Di antara semua jemaah yang telah tampak lanjut dan dewasa, Singgit terlihat lebih muda.
Dia terdaftar sebagai di antara jemaah haji termuda Indonesia. Singgit sudah meregistrasi haji semenjak umur sembilan tahun.
" Usia sembilan tahun didaftarkan, pergi sama orang tua," kata Singgit,
Remaja yang menempuh edukasi di Pesantren Gontor, Jawa Timur, tersebut pandai berbahasa Arab. Dia paling bersyukur bisa berhaji bareng orang tuanya.
" Alhamdulillah bahagia (pergi haji). Bagi ibadah ini, saya izin sekolah sekitar dua bulan," kata dia.
Singgit hendak keberangkatannya ke Tanah Suci bisa menjadi misal anak-anak muda Indonesia. " Jadilah orang yang selalu menggali rida Allah, membahagiakan orang tua, dapat meluruskan umat," kata dia.
Ibunda Singgit, Suhartini, telah tiga kali naik haji. Dia menyebut, kemampuannya memberangkatkan Singgit ke Tanah Suci sebab pertolongan Allah SWT.
Suhartini bercita-cita sang putera bisa beribadah dengan baik. " Saya berdoa bikin Singgit semoga jadi anak yang soleh, punya ilmu, sukses, dan diridai Allah," kata Suhartini.
Bagi mereka yang mempunyai latar belakang tidak cukup mampu, mengemban haji bukanlah sekadar memenuhi keharusan agama. Lebih dari itu, haji dimaknai sebagai panggilan Ilahi guna lebih dekat pada Tuhan.
Tidaklah mengherankan andai para Muslim berusaha keras demi bisa berangjangsana ke Baitullah. Di samping rajin ibadah, mereka giat menggali rezeki halal demi dapat sholat dan beribadah langsung di sekitar Kabah.
Seperti cerita penjual bakso asal Kota Kendari, Samsul Irawan, 45 tahun. Bersama istrinya, Jumatia, 44 tahun, Samsul pergi mengisi panggilan Allah untuk mengemban haji tahun ini.
Dikutip dari Liputan6.com, cerita naik haji Samsul dengan Jumatia tidaklah sepele. Pasangan ini berusaha keras demi dapat menunaikan rukun Islam kelima itu.
Selama 26 tahun, mereka menyisihkan beberapa pendapatan. Niat untuk dapat naik haji hadir setelah menikah dan meninggalkan lokasi kelahiran di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, guna merantau ke Kota Kendari.
Di perantauan, pasangan ini hidup dengan sederhana. Sejak 1993 sampai 1997, Samsul menyatakan sudah 12 kali pindah lokasi tinggal kontrakan.
" Karena memang cari lokasi tinggal yang cocok dengan isi kantor, lagipula sudah terdapat anak-anak," kata Samsul.
Selama di perantauan, Samsul dan Jumatia menggali nafkah sebagai penjaja bakso. Dia berkeliling menawarkan dagangannya dengan gerobak dorong.
" Saya yang menjual, istri yang buat baksonya," kata Samsul.
Dia menyatakan menjual bakso ketika itu ialah pilihan yang dapat diambil. Pertimbangannya, modal yang tercapai serta mengekor jejak keluarga.
Keinginan guna pergi haji semakin menguat pada 2000. Penyebabnya, Jumatia sering menghadiri syurukuan kerabat yang berkeinginan berangkat haji.
Samsul mengakui tidak masing-masing hari usahanya mendapat tidak sedikit untung. Dia pernah mengalami barang-barang tidak laku sama sekali.
Jika keadaan tersebut terjadi, mereka mesti bersabar dan pandai-pandai berhemat. Pernah pula mereka berutang guna mencukupi keperluan hidup.
" Saya pernah sejumlah utang uang guna beli santap dan bahan baku. Waktu itu, jualan tak laku," kata Jumatia.
Jumatia menuliskan pendapatan dari hasil berjualan bakso keliling kadang tidak lumayan untuk mengisi kebutuhan.
Meski begitu, situasi serba terbatas yang dihadapi keluarganya tidak menyurutkan niat guna naik haji.
Wanita tersebut juga mengakui terkadang niatan untuk dapat ke Baitullah sempat kendor. Terutama saat harus berutang.
" Berjualan bakso, kadang untungRp50 ribu sehari kadang Rp100 ribu," kata Jumatia.
Sebagian keuntungan itu mereka tabung. Tentu sesudah dikurangi untuk ongkos sekolah anak dan makan.
Pasangan ini mempunyai empat orang anak. Beruntung, anak kesatu mereka berusia 22 tahun telah menikah.
Sebelum meregistrasi haji pada 2011, Jumatia menyatakan mendapatkan mimpi. Dalam mimpinya, Jumatia sedang naik gunung.
" Dalam mimpi, saya ditarik adik saya naik ke atas gunung," kata dia.
Setelah itu, Jumatia dan Samsul meregistrasi untuk pergi haji. Saat itu, pasangan ini melulu punya duit Rp30 juta.
" Mimpi saya jadi nyata, adik saya yang unik tangan saya dalam mimpi. Dia yang tambahkan duit saya meregistrasi haji," kata dia.
Sebentar lagi, Samsul dan Jumatia berangkat ke Tanah Suci. Pasangan ini menyatakan senang sebab berangkat bareng rombongan Wali Kota Kendari.
" Saya senang, meskipun saya penjaja bakso bakar, tapi dapat naik haji bareng Wali Kota Kendari," ucap dia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar