Demi Bertahan Hidup, Ibu Ini Jual Makanan Sisa dari Tempat Sampah
Bagi semua warga kurang mampu ini, mengais makanan saldo dari lokasi sampah restoran cepat saji, pasar, dan pengasingan sampah menjadi satu-satunya teknik bertahan dari kelaparan. Sisa-sisa nasi dan daging yang dibersihkan, lantas dimasak lagi tersebut disebut dengan pagpag, yang secara harfiah dengan kata lain 'makanan yang dibersihkan'.
Berjualan pagpag sudah menjadi bisnis menguntungkan di wilayah kurang mampu di Manila. Contohnya, Mama Rosita, seorang empunya warung Pagpag. Baru-baru ini dia berbagi untuk Asian Boss mengenai bagaimana ia berjualan makanan daur ulang tersebut selama enam tahun.
"Kami menjualnya guna bertahan hidup. Hasilnya ialah apa yang kami pakai untuk terus hidup. Ditambah, orang di sini membutuhkannya," ujar Rosita dilansir laman NextShark.
Pembawa acara Asian Boss, Joshua, bahkan mengupayakan memakan menu pagpag yang diciptakan oleh Mama Rosita.
"Jika kita tidak menghiraukan bahwa ini ialah sisa makanan cepat saji, rasanya lumayan enak. Tapi tetap saja, tidak terdapat orang di dunia ini yang berhak hidup dari makanan di lokasi sampah bukan?" ujarnya.
Pagpag pun menjadi pendapatan utama dari Noberto Lucion, yang menghasilkan 180 piso atau selama Rp49.000 sehari dari mendaur ulang makanan sisa. Setiap hari sekitar 12 tahun, mantan asisten juru masak restoran tersebut membeli seember daging dan tulang ayam dari gerai makanan lewat pemasok reguler dengan harga selama 30-70 piso per ember atau selama Rp8.000-19.000.
Makananpagpag meluas di tahun 2008 seiring dengan bertambahnya kemiskinan di Filipina yang menyebabkan krisis makanan besar. Makanan ini menjadi paling populer sehingga dikaitkan dengan penurunan insiden kelaparan di Filipina yang ditemukan melewati sebuah survei oleh Social Weather Stations di tahun 2015.
Bahkan, Wali Kota Manila Isko Moreno yang tumbuh di wilayah kumuh, dulu pernah mengais makanan saldo dan mengolahnya sendiri menjadi pagpag.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar