PANTAIPOKER | Bandar Ceme | Agen Bandar Ceme | Bandar Capsa | Ceme Keliling | Poker Online

WWW.POKERPANTAI.ORG WWW.POKERPANTAI.INFO

Pantaipoker
Berita Terkini Indonesia oleh Situs Poker Online Terbaik Se-Indonesia.

Minggu, 28 April 2019

BANDAR CEME - Memberi Gadget pada Anak Ternyata Setara dengan Memberi Segram Kokain, Peringatan Untuk Orangtua

Memberi Gadget pada Anak Ternyata Setara dengan Memberi Segram Kokain, Peringatan Untuk Orangtua

Memberi Gadget pada Anak Ternyata Setara dengan Memberi Segram Kokain, Peringatan Untuk Orangtua


BANDAR CEME Anak-anak sibuk bermain dengan gadget barangkali sudah menjadi pemandangan yang wajar di era digital ini.

Meski tahu gadget bisa memberi akibat buruk, tidak sedikit orang tua yang tetap tidak mempedulikan anaknya bermain dengan gadget.

Bahkan tak tidak banyak anak-anak yang kejangkitan bermain gadget dan jadi malas bermain dan bergerak aktif.

Bahkan seorang terapis kejangkitan dari Inggris mengatakan, menyerahkan ponsel ke anak sama laksana "memberinya segram kokain".

Waktu yang dikuras seseorang guna mengirim pesan di software percakapan atau menjawab komentar di media sosial dapat menyebabkan kejangkitan pada anak remaja, laksana halnya narkoba dan alkohol.

Mandy Saligari, spesialis kejangkitan dari klinik rehabilitasi Harley Street London, menuliskan bahwa kejangkitan gadget seharusnya juga ditanggulangi seperti halnya kejangkitan narkoba.

"Saya tidak jarang kali mengatakan, ketika Anda menyerahkan tablet atau ponsel ke anak, tersebut seperti menyerahkan mereka sebotol wine atau segram kokain. Apakah anda siap tidak mempedulikan mereka dengan benda tersebut di balik pintu?" katanya.

Ia menjelaskan, pemakaian gawai yang berlebihan memiliki akibat yang sama pada benak seperti halnya obat-obatan terlarang.

"Saat merundingkan perilaku kecanduan, seringkali orang langsung menyaksikan pada zat berbahaya. Padahal, pola perilaku itu dapat mewujud dalam sekian banyak  bentuk, contohnya obsesi pada makanan, melukai diri, atau mengirim teks bernuansa seks," katanya.

Di kliniknya, Saligari, menuliskan bahwa dua pertiga pasiennya ialah remaja berusia 16-20 tahun.

Ia menyinggung peningkatannya sangat mengharukan dalam 10 tahun terakhir.

Dalam survei teranyar yang melibatkan 1.500 guru di Inggris terungkap, dua pertiga responden menyatakan sadar siswa mereka berbagi konten bernuansa seksual, dan selama 1 dari 6 anak telah melakukannya semenjak usia SD.

"Banyak pasien saya yang baru berusia 13-14 tahun dan mengerjakan sexting memandang itu ialah hal yang normal," katanya.

Perilaku sexting itu tidak saja mengirimkan ucapan-ucapan bermuatan seks tapi pun mengirimkan potret diri telanjang.

Hal itu dirasakan normal andai orangtua atau orang dewasa tidak mengetahuinya.

Berdasarkan keterangan dari Saligari, andai anak semenjak kecil telah diajarkan guna menghargai dirinya, perilaku mengeksploitasi diri seperti tersebut tidak barangkali terjadi.

"Ini ialah isu menghargai diri dan identitas diri," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar