BANDAR CEME Perut Buaya Pemangsa Deasy Dibedah, Isinya Bikin Merinding
Kematian wanita cantik, Deasy Tuwo, yang diduga akibat terkaman buaya hingga kini masih menyorot perhatian. Polisi terus menyelidiki kasus tersebut.
Sementara buaya bernama Merry yang diduga menerkam Deasy, mati saat dititipkan di Pusat Penyelamatan Satwa Tasik Oki pada Minggu, 20 Januari 2019. Tim dokter PPS Tasik Oki kemudian membedah perut Merry untuk mengetahui penyebab kematian buaya itu.
Mereka dibuat terkejut begitu melihat isi perut Merry. Ada organ manusia dalam perut buaya itu, diduga merupakan bagian tubuh milik Deasy.
Ketua Tim Dokter PPS Tasik Oki, drh. Dwielma Nubatonis, mengatakan proses nekropsi atau pemeriksaan kematian dimulai pada Rabu, 23 Januari 2019 pukul 13.00 WITA. Nekropsi berlangsung selama 2 jam dan dinyatakan selesai sekitar pukul 16.00 WITA.
" Dari hasil penelitian lewat mekanisme pembedahan, kami mendapati ada organ tubuh manusia mulai dari lengan hingga jari-jari yang masih bertautan dengan pakaian milik korban," ujar Dwielma, dikutip dari Fajaronline.co.id, Kamis 24 Januari 2019.
Dwielma mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan, buaya Merry diduga mati pada Minggu dini hari. Penyebab kematian yaitu kondisi drop atau menurut akibat heatstrock.
Gejala tersebut diduga disebabkan faktor awal rescue yang dijalankan terhadap buaya dengan bobot 800 kilogram tersebut. Hal ini membuat kondisi Merry semakin parah ketika tiba di kawasan konservasi.
"Artinya, kondisi hewan ini mengalami panas hebat akibat terpapar sinar matahari dalam rentang waktu lama," kata Dwielma.
Selain itu, kata Dwielma, ditemukan akumulasi gas sangat banyak di bagian lambung. "Kondisi buaya ini juga mengalami obesitas," ucap Dwielma.
Tewasnya Deasy Tuwo, 44 tahun, akibat dimakan buaya menimbulkan tanda tanya. Banyak kejanggalan muncul terkait kasus kematian ini.
Wanita cantik ini ditemukan tewas secara mengenaskan di kolam kandang buaya di Tomohon. Warga sempat mengira jenazah Deasy adalah boneka.
Sahabat Deasy, Merry Supit, menilai kematian itu tidak wajar. Sebab, menurut Merry buaya tersebut sudah jinak.
"Saya sendiri sering melihat cara korban memberi makan buaya itu," ujar Merry, dikutip dari Pojoksatu.id.
Deasy, kata dia, selalu berinteraksi dengan buaya tersebut sebelum memberi makan. Seolah antara Deasy dan buaya itu sudah saling kenal.
"Sebelum diberi makan justri korban sering berinteraksi dengan buaya, menepuk-nepuk punggung lantas mulut buaya terbuka. Di saat itulah korban melemparkan makanan," kata Merry.
Kapolres Tomohon, AKBP Raswin Bachtiar Sirait melalui Kapolsek Tombariri, Iptu Jantje Untu, memgatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan atas kasus ini. Sehingga, dia belum bisa memberikan jawaban terkait penyebab kematian Deasy.
"Ini kan masih dilidik, belum bisalah kita berasumsi yang lain-lain," kata dia.
Jantje membantah kematian Deasy termasuk tidak wajar. Apalagi jika ditautkan dengan kabar yang menyebut properti seperti sandal ditemukan jauh dari lokasi kematian Deasy.
"Siapa yang bilang sandal korban ditemukan beda tempat? Cerita karangan itu," kata Jantje.
Dia juga menjelaskan terdapat sejumlah fakta baru dalam kasus ini namun tidak bisa diungkapkan ke publik. Alasannya, Jantje menyebut dapat berpengaruh pada penyidikan.
"Intinya kita terus bekerja, mencari bukti-bukti dan fakta baru, saat ini berkas penyidikan sudah kita limpahkan ke Satreskrim Polres Tomohon," kata dia.
Jantje berharap segera mendapatkan hal yang mendukung. "Guna menyimpulkan sebenar-benarnya kematian korban," ucap dia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar