BANDAR CEME Membongkar Karakter Pengabdi Masa Lalu
BANDAR CEME - Tak ada yang abadi dalam kehidupan di dunia. Ada awal, Ada akhir. Kondisi ini sudah pasti selalu dihadapi semua orang, tetapi nyatanya memberikan dampak yang berbeda-beda. Sebagian bisa menghadapinya dan melanjutkan hidup, sebagian lainnya memilih untuk terjebak di masa lalu.
Banyak alasan yang menyebabkan seseorang memilih untuk hidup mengenang masa lalu. Alasannya bisa positif dan negatif. Namun, menurut sejumlah pakar, kebiasaan menghidupkan masa lalu tidak memberikan efek baik pada kehidupan manusia.
Menghindari tanggung jawab
Salah satu kebiasaan orang yang tidak bisa bergerak maju dari masa lalu adalah mereka cenderung gagal menjalankan tanggung jawab. Mereka menjadi penakut. Alhasil, mereka pun memiliki rutinitas yang sama setiap hari, mulai dari bangun pagi hingga kembali tidur malam.
Tim Carey Ph.D., seorang psikolog klinis, profesor, dan direktur di Centre for Remote Health, Flinders University, Australia, menjelaskan bahwa orang yang memiliki pikiran normal tidak akan kesulitan melepaskan masa lalu, mereka mengingatnya tetapi tidak berusaha untuk menghidupkannya.
Athena Ponce, seorang pengacara kantor pemerintahan di Austin, Texas, AS, mengatakan bahwa ketika seseorang menolak tanggung jawab atas pilihan hidup yang buruk akan menghasilkan drama yang memengaruhi kehidupan orang-orang di sekitarnya.
“Ada orang-orang yang memang memiliki reaksi pertamanya adalah defensif, melawan, dan sarat alasan ketika orang lain mempertanyakan perilakunya yang tidak bertanggung jawab. Tipe orang seperti ini hanya menyebabkan stres dan berakhir dengan frustrasi,” ujar Ponce.
*Sulit berpaling dari hubungan yang telah kandas *
Randi Gunther, Ph.D., seorang psikolog klinis dan konsultan pernikahan, mengatakan, jika seseorang sering ditinggalkan dalam sebuah hubungan, mereka akan merasa diri tidak berarti, sehingga mereka pun berusaha lebih besar ketika berada dalam hubungan baru agar tidak kandas.
Masalah yang sebenarnya terjadi, kata Gunther, adalah gagal menerima kekalahan, meski dalam hubungan tidak ada yang menang atau kalah.
“Anda harus bisa menerima diri sendiri, apapun yang terjadi dalam hidup Anda, baik atau buruk. Ketidakmampuan terhadap hal ini jadi membuat seseorang mengingat-ingat hal-hal indah dalam hidup mereka di masa lalu. Ini adalah gejala yang tidak baik,” ujar Gunther.
Dia menganjurkan agar seseorang sedikit demi sedikit belajar untuk menerima perubahan dalam hidupnya. Pasalnya, waktu terus bergerak dan tidak menunggu orang-orang yang belum menyelesaikan masalah di masa lalu.
*Senang mengeluh *
Pengabdi masa lalu memiliki sebuah sifat serupa satu sama lain, yakni hobi mengeluh. Mereka selalu membandingkan apa yang terjadi hari ini dengan hari lalu.
Ada-ada saja yang dikeluhkan, mulai dari matahari yang terlalu panas, kebisingan, pelayanan yang kurang baik, dan masih banyak lagi. Sifat yang seperti ini bisa menyerap energi baik orang-orang di sekitar mereka.
Gunther mengatakan, terlalu sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang hobi mengeluh bisa meluruhkan semangat diri sehingga Anda pun melihat segala hal di sekitar seolah semuanya mengecewakan Anda.
*Penghisap energi baik *
Menurut Martyn, V. Hal, penulis buku pengembangan diri bertajuk Don’t Play Their Games, memiliki seseorang dengan kecenderungan negatif dalam sisi emosional bisa “memanipulasi” pikiran dan mental Anda menyerupai mereka.
Dia mengungkapkan bahwa tarikan energi negatif bisa berakhir fatal.
“Mereka (orang-orang yang terjebak masa lalu) tanpa disadari telah membentuk rasa kasihan pada diri sendiri tanpa akhir. Mereka tidak mau memecahkan masalahnya. Banyak yang sengaja membuat diri sengsara. Lalu, mereka juga bisa melontarkan kritik pedas tanpa ampun pada orang lain tanpa memedulilkan perasaan lawan bicara. Kondisi ini menjadikan interaksi dengan mereka sangat mengurasi energi. Anda akan merasa lelah dan lesu,” urai Hal.
*Memiliki trauma masa kecil *
Gunther menambahkan seseorang yang memiliki masa lalu kelam saat masa kecil dan tidak mencari bantuan untuk menyelesaikan efek trauma yang tersisa, maka saat dewasa akan terus menerus mencari kondisi yang nyaman.
Lalu, ketika mereka sudah menemukan kenyamanan, tetapi harus melepaskan atau kehilangan hal tersebut, fase ini yang akan menimbulkan gangguan pada lapisan emosional terdalam mereka.
Alhasil, mereka akan selalu mencari kondisi baru yang menyerupai kondisi nyaman mereka tersebut. Jika tidak menemukannya, mereka pun menjelma menjadi seseorang yang hobi mengeluh, cepat marah, dan rentan mengalami bunuh diri.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar