PANTAIPOKER | Bandar Ceme | Agen Bandar Ceme | Bandar Capsa | Ceme Keliling | Poker Online

WWW.POKERPANTAI.ORG WWW.POKERPANTAI.INFO

Pantaipoker
Berita Terkini Indonesia oleh Situs Poker Online Terbaik Se-Indonesia.

Minggu, 17 Juni 2018

BANDAR CEME Peneliti Mengidentifikasi Tipe Depresi Baru

BANDAR CEME Peneliti Mengidentifikasi Tipe Depresi Baru

BANDAR CEME Peneliti Mengidentifikasi Tipe Depresi Baru



BANDAR CEME - Kesehatan mental saat ini sedang mendapat sorotan. Khususnya setelah peristiwa bunuh diri dua selebritas, Kate Spade dan Anthony Bourdain belum lama ini.

Depresi memang masalah serius. Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), depresi telah menjangkiti lebih dari 300 juta orang di penjuru dunia. Dalam kondisi terburuk, depresi dapat menyebabkan bunuh diri.

Hampir 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Bahkan, bunuh diri adalah penyebab kematian kedua mereka yang berusia 15 hingga 29 tahun.

Meskipun depresi berdampak bagi begitu banyak orang, kebanyakan obat yang digunakan untuk mengobati depresi tidak bekerja untuk sekitar 30 persen pasien. Begitu catatan rilis pers baru dari sebuah penelitian di Amerika Serikat.

Sekarang, para ilmuwan mulai memahami mengapa hal ini terjadi. Rupanya 90 persen dari antidepresan yang diberikan didasarkan pada gagasan bahwa orang yang depresi tidak memiliki serotonin dan noradrenalin, hormon dan senyawa kimia penting di otak.

Akan tetapi, sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Neuroscience mengemukakan alasan mengapa mengobati kadar serotonin dan noradrenalin saja tidak akan meredakan gejala depresi pada sebagian orang.

“Tiga puluh persen orang yang menggunakan obat-obatan antidepresan tidak merasakan efeknya,” kata Yumiko Saito, Ph.D., dan rekan penulis Yuki Kobayashi. “Tentu, kita membutuhkan obat baru. Kita membutuhkan penjelasan lain soal apa yang bisa menyebabkan depresi.”

Depresi pada 30 persen orang tersebut mungkin dipicu oleh protein yang disebut RGS8. Ini yang dideskripsikan para ilmuwan sebagai depresi jenis baru.

Para peneliti melakukan riset atas dasar penelitian sebelumnya yang menemukan protein RGS8 tingkat rendah dapat menyebabkan peningkatan gejala depresi. Karena RGS8 mampu menonaktifkan reseptor hormon MCHR1--yang memengaruhi respons mood hingga tidur dan nafsu makan--masuk akal jika mengurangi kadar RGS8 berarti meningkatkan perilaku depresif.

Untuk menguji teori tersebut, para peneliti menganalisis dua kelompok tikus. Satu kelompok mendapatkan rekayasa genetik, kadar RGS8 mereka dibuat lebih tinggi.

Menurut Newsweek, kelompok kontrol--menjalani tes berenang dan dipantau berapa lama setiap tikus aktif atau tidak bergerak.

Tikus di kelompok pertama yang kadar RGS8-nya dibuat lebih tinggi, tidak bisa bergerak untuk waktu yang lebih singkat daripada tikus normal. Peneliti menafsirkan ini berarti mereka tidak terlalu depresi.

Ketika diberi obat antidepresan yang berperan sebagai monoamina, tikus RGS8 memiliki waktu imobilitas yang bahkan lebih pendek. Sementara saat tikus diberi obat yang menghentikan berfungsinya MCHR1, waktu imobilitas tidak berubah.

Hasilnya menunjukkan bahwa tikus menampakkan “jenis depresi baru”. Pada jenis baru ini, serotonin dan noradrenalin sama sekali tidak berpengaruh.

“Monoamina tampaknya tidak terlibat dalam perilaku depresif ini. Sebaliknya, MCHR1 justru terlibat,” ujar Dr. Saito Ph.D. dalam siaran pers.

Tim kemudian mengamati otak tikus di bawah mikroskop untuk menentukan hubungan antara MCHR1 dan RGS8. Mereka memeriksa ukuran silia yang tumbuh dari sel-sel di wilayah hipokampus yang disebut CA1, dengan konsentrasi RGS8 tertinggi. Silia adalah organel mirip antena televisi yang terlibat dalam komunikasi antar-sel.

Tim menemukan bahwa tikus RGS8 tak sekedar lebih sedikit memiliki perilaku depresif daripada mereka yang tidak memiliki RGS8 tambahan, tetapi mereka juga memiliki silia yang lebih panjang. Tikus yang mengonsumsi obat penghenti MCHR1 memiliki silia yang lebih panjang.

Dalam sepuluh tahun terakhir, para ilmuwan telah melihat bahwa silia yang disfungsional berhubungan dengan gangguan kesehatan seperti obesitas, penyakit ginjal dan penyakit retina.

Belum banyak yang diketahui tentang hubungan mereka dengan gangguan mood.

Temuan ini menyebabkan Saito dan timnya menilai RGS8 adalah kandidat menjanjikan menuju pengembangan obat antidepresan baru. Ini akan jadi fokus untuk eksperimen masa depan.

Menanggapi hasil studi ini, menurut para peneliti, pengobatan baru diperlukan untuk membantu banyak orang yang berjuang dengan masalah kesehatan mental. Pengobatan baru ini dapat benar-benar memperbaiki kondisi mereka.

Tetapi, sementara menunggu perkembangan selanjutnya, mungkin menambahkan langkah-langkah holistik dapat membantu. Misal berolahraga dan memastikan jam tidur yang cukup setiap malam.

Selain tetap mengikuti pengobatan saat ini, sebaiknya jangan ragu untuk menghubungi tenaga profesional untuk mendapatkan pertolongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar