BANDAR CEME Menjadi Pengunjung Museum yang Baik

BANDAR CEME - Museum merupakan objek wisata layak kunjung yang sarat edukasi dan inspirasi. Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) di Jakarta misalnya, konsepnya yang unik dan kekinian dengan tampilan kontemporer, area galeri luas, juga spotfoto yang instagramable, ternyata berhasil menarik minat kaum muda.
Kendati demikian, tiap museum pada dasarnya memiliki aturan tertulis ataupun tidak yang berfungsi mengoptimalkan pengalaman pengunjung, sekaligus menjaga dan melestarikan koleksi-koleksi di dalamnya dengan baik. Untuk itu, mengetahui etiket mengunjungi museum juga penting.
Menukil Tempo, Amat Kusaini Al-Alexs, koordinator pemandu wisata Museum Kesejarahan Jakarta, mengatakan bahwa pengunjung sebaiknya tidak ‘menumpang’ beristirahat, juga makan dan minum di dalam museum.
Meskipun boleh membawa makanan dan minuman ke dalam museum, menyantapnya dikhawatirkan bisa mengundang semut bila remah makanan tercecer atau cairan minuman tumpah.
Menurutnya, hal itu berpotensi mengotori tempat, menganggu pengunjung lain, dan merusak koleksi. Apalagi jika remah-remah dan tumpahan cairan mengenai benda koleksi.
Sementara itu, lanjut dia, pengunjung yang duduk-duduk di dalam museum bisa menganggu mobilasi pengunjung lain yang keluar masuk ruangan. Bila ingin beristirahat, ia menyarankan agar Anda mencari tempat yang telah disediakan.
Alexs pun menegaskan agar pengunjung museum tidak berlebihan dalam berfoto. Sebab, mengabadikan kenangan tanpa tahu batasan justru bisa menganggu tamu lain yang ingin menikmati koleksi museum.
Meskipun wajar ketika pengunjung pameran seni terlebih yang baru pertama kali bertandang ingin mengabadikan kenangan, CEO Art Jog Heri Pemad mengatakan ada baiknya jika itu cuma dilakukan sekilas saja untuk mengonfirmasi apa yang difoto.
Untuk berfoto yang beretiket, Alexander Thian atau lebih dikenal dengan nama aMrazing, penulis dan fotografer pelesiran yang belakangan berprofesi sebagai storygrapher kesohor di media sosial, menyarankan Anda jangan menghabiskan waktu selama mungkin.
Dia bilang, apabila Anda melihat karya seni yang menarik untuk difoto, cukup ambil gambar itu satu sampai dua kali kemudian pergi.
Lebih penting lagi, kita perlu memiliki kesadaran bahwa tujuan seseorang ke museum adalah untuk menikmati benda-benda yang dipamerkan.
“Sebagai pengunjung kita harus tahu diri bahwa kita ke sana bukan hanya ingin pamer di Instagram, bukan hanya ingin selfie, lalu kita pasang di feed untuk menunjukkan bahwa kita udah pernah ke situ,” ungkap Alex kepada Okezone.
Sebaliknya, ”Di sana kita berusaha memahami kenapa artist membuat artwork sedemikian rupa, idenya itu dapat dari mana,” tandasnya.
Masih terkait foto, KompasTravel mencatat bahwa pengunjung yang berfoto sebaiknya tidak menghalangi papan penjelasan tentang barang koleksi. Hindari juga penggunaan tongsis atau tongkat swafoto sebagai alat bantu. Pasalnya, tongsis berukuran panjang bisa mengganggu pengunjung lain dan berisiko merusak karya.
Begitu juga penggunaan flash atau lampu kilat. Cahaya berlebih secara tidak langsung bisa mengurangi kualitas barang koleksi di museum. Pada karya lukisan misalnya, itu akan memengaruhi degradasi warna sehingga membuatnya rentan rusak dan berubah warna.
Khususnya di museum yang memamerkan lukisan, jangan memotret dengan kamera professional beresolusi tinggi untuk menghindari duplikasi.
Mariah Tyler, editor foto digital diTravel+Leisure juga menulis sejumlah etiket mengunjungi museum yang kerap diabaikan pengunjung.
Ia menyarankan agar pengunjung tetap tenang agar tak menganggu kenyamanan orang lain. Misalnya dengan tidak mengobrol atau tertawa yang gaduh, berkomunikasi di telepon, atau bahkan bersiul saat mengagumi suatu karya.
Terlebih bagi yang membawa anak, ada baiknya memberi pengertian kepada buah hatinya sebelum memasuki museum untuk tidak berlarian atau berteriak-teriak.
Selanjutnya, kata dia, sangat baik memperhatikan barang bawaan dengan tidak membawa masuk tas ransel atau jinjing yang terlalu besar. Selain beban yang berat bisa memengaruhi kenyamanan Anda dalam menikmati koleksi, itu juga berpotensi menyenggol dan menjatuhkan koleksi yang berharga.
Tyler juga menyarankan Anda membaca peraturan yang tertera dengan cermat. Beberapa benda koleksi mungkin boleh disentuh karena bersifat interaktif. Namun kebanyakan, meskipun tidak diberi garis pembatas, sebaiknya tidak disentuh agar tak mudah rapuh.
Perhatikan juga agar tak terlalu dekat dengan barang koleksi. Jika Anda begitu mengagumi suatu karya, sambung Tyler, alangkah bijak jika memerhatikannya agak ke belakang, dan jika Anda perlu maju untuk mengamati lebih dekat, sebaiknya meminta izin dulu jika harus lewat di depan orang lain.
Selain itu, pastikan ponsel Anda dalam mode diam, dan tidak bersandar ke dinding sekalipun.
Terlepas dari semua, inti dari etiket bermuseum adalah “penghormatan” terhadap barang seni. Hal itu merupakan simpulan pemikiran ahli seni Timothy Aubry yang tertuang dalam Paper monument: A Journal of Contemporary Art.
Ia merenungkan bagaimana semestinya orang berperilaku di museum, dan jawabannya, jika manusia masa kini mau belajar menghormati suatu budaya dalam suatu koleksi, meskipun penghormatan itu terkesan kuno, maka tak sulit bagi seseorang mengetahui bagaimana beretiket di museum.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar