AGEN BANDAR Q - Setelah tiga bulan ditutup, Hotel Ritz-Carlton, Riyadh, Saudi Arabia, akhirnya kembali dibuka untuk umum per Februari 2018.
Beroperasinya kembali salah satu hotel termegah di dunia itu lantaran ratusan tahanan yang terdiri dari 11 pangeran, empat menteri, bekas menteri, pejabat negara, serta pebisnis telah dibebaskan.
Bersamaan dengan dibukanya Ritz Carlton dan pembebasan para tahanan, pemerintah Arab Saudi mengumumkan keberhasilannya menumpas skandal korupsi yang ditudingnya dilakukan oleh para ratusan tahanan itu.
Lansiran Alarabiya juga menyebut, Kejaksaan Agung Arab Saudi berhasil mengumpulkan dana sekitar US $106 miliar atau sekitar Rp1.419 triliun yang merupakan uang "penyelesaian" dari kasus ini.
Para tahanan dibebaskan dalam waktu yang tidak bersamaan. Pekan lalu, Pangeran Alwaleed bin Talal dan beberapa pebisnis seperti pengusaha ritel, Fawaz Al Hokair dibebaskan.
Tak lama dari itu, mantan kepala pengadilan kerajaan, Khalid al-Tuwaijiri; dan Pangeran Turki bin Nasser--yang terlibat dalam skandal penjualan senjata dalam jumlah masif di Inggris dan Amerika Serikat--juga dibebaskan.
Tak jelas berapa besaran uang pengganti yang diserahkan masing-masing tahanan. Sebelumnya beredar kabar bahwa pemerintah Arab Saudi meminta jatah dari keuntungan Kingdom Holding, perusahaan investasi yang dimiliki Pangeran Alwaleed.
Jatah itu berupa uang setara US $6 miliar atau Alwaleed harus mundur dari posisinya sebagai CEO dari Kingdom Holding. Namun dalam lansiran Bloomberg, dua sumber yang mengetahui perkara ini menyatakan Alwaleed menolak dengan keras permintaan kedua.
Permintaan serupa juga dialamatkan pada Waleed al-Ibrahim, Presiden Direktur Middle East Broadcasting Center (MBC), perusahaan penyiaran terbesar di Semenanjung Arab. Bedanya, pemerintah Arab Saudi dikabarkan hanya meminta kepemilikan saham utama MBC, tanpa harus Waleed melepaskan jabatannya.
Di sisi lain, seorang sumber di pemerintahan Arab Saudi pada Desember 2017 mengatakan, Pangeran Miteb, putra dari almarhum Raja Abdullah, sepakat untuk membayar uang penyelesaian senilai lebih dari US $1 miliar sebagai ganti dari kebebasannya.
Berkaitan dengan uang penyelesaian, Menteri Perekonomian Arab Saudi Mohammed al-Tuwajiri mengatakan kepada CNNMoney bahwa sebagian aset tak bergerak, seperti rumah dan mobil, milik para tahanan telah disita pemerintah.
Hal lain yang tidak jelas adalah hingga saat ini tidak ada keterangan resmi dari pemerintah Arab Saudi yang menjelaskan alasan penangkapan ratusan orang itu.
Keterangan hanya muncul dari kantor kejaksaan setempat yang menyebut penyelidikan kasus korupsi terhadap ratusan orang yang diduga terlibat itu akan terus dilakukan meski seluruh tahanan telah dibebaskan.
Penyelidikan yang dilakukan kali ini akan melibatkan alat bukti beserta saksi-saksinya. Jika terbukti, maka para tahanan itu akan dicekal dan diinapkan di rumah tahanan selama maksimal enam bulan sebelum masuk masa persidangan.
Meski begitu, para tahanan tetap memperoleh hak-haknya seperti pendampingan kuasa hukum sedari masa penyelidikan hingga persidangan nanti, hak untuk menerima informasi pencekalan dan penangkapan, dan hak untuk menolak ditahan selama maksimal enam bulan sebelum persidangan.
Dampak ke investor
Sejumlah pejabat Arab Saudi yang hadir pada pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos akhir Januari 2018 menjelaskan di depan khalayak umum bahwa "pembersihan" yang dilakukan Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) salah satunya untuk melihat reaksi para investor.
Mereka mengatakan, MbS tidak memiliki pilihan lain jika ingin rencananya untuk mereformasi sistem ekonomi di negaranya bisa berhasil.
Namun, banyak analisis yang justru ragu MbS akan berhasil. Pasalnya, kepulangan para tahanan ini tak akan mengubah banyak hal selama kerajaan tidak membuka apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini seperti ketika kita sedang membaca buku di perpustakaan dan tiba-tiba alarm kebakaran palsu berbunyi. Begitu bunyinya berakhir, kita semua akan kembali fokus membaca lagi," sebut Ali Taqi, kepala analis di Rasmala Investment Bank Ltd. di Dubai.
Hal ini tercermin dari melonjaknya kembali harga saham Kingdom Holding sebesar 10 persen pada hari Alwaleed dibebaskan.
Investor, menurut Kunal Damle, senior broker di Securities & Investment Company di Bahrain, para investor memang menahan gerakan mereka ketika predikat koruptor melekat, namun ketika sudah dibebaskan, mereka menganggap urusan itu sudah selesai.
"Bagi mereka, bisnis adalah bisnis," sebutnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar